Kamis, 26 Agustus 2010

GUSDURIAN

Cerita tentang Karomah Gus Dur (sebagai bukti-bukti tanda-tanda kewalian)

Menurut keterangan Kyai Agil siraj (Ketua PBNU) - SCTV dalam acara Mengenang 7 Hari Gus Dur tanggal 6 Januari 2010 jam 10.58 1. Kisah Makam Surya Memesa dan Ziarah Syekh Ali Uraidi bin Imam Ja’far Shadiq Di sela-sela acara tahlilan hari ke-7 wafatnya Gus Dur di Ciganjur..., Jakarta Selatan, Selasa (5/1), Said Agil pernah diajak ziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Gus Dur membawanya ke sebuah kuburan yang sepi. Untuk mencapai lokasi saja, harus menyebrang sebuah situ (danau). Saat tiba, Gus Dur menuju sebuah makam. Saat ditanya Said Agil, siapa jenazah yang telah dikebumikan di tanah ini? Gus Dur tidak langsung menjawab. “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan,” ujar Said Agil meniru ucapan Gus Dur. Orang sakti yang dimaksud Gus Dur, sambung Said Agil, ternyata bernama Surya Mesesa, seorang penyebar agama Islam di pulau Jawa. Gus Dur memberitahukan kepada Said Agil, mengapa Surya Mesesa bisa masuk Islam. “Untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syeikh Ali. Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujarnya. Ceritanya, Gus Dur bersama Said Aqil ingin membacakan surat Al-Fatihah untuk Syekh Ali sebanyak seribu kali. Namun ketika mereka baru membacakan al-Fatihah sebanyak 30 kali tiba-tiba seorang polisi datang mengusir mereka dan mengatakan, “Musyrik, haram!” Untung saja mereka bukan penduduk setempat, sehingga tidak dihukum berat, karena bagi mereka ziarah kubur adalah larangan berat. Namun Gus Dur sempat marah kepada polisi itu, “Kamu musuh Allah, Wahabi,” kata Gus Dur seperti dikutip Said Aqil saat memberikan testimoninya usai memimpin tahlilal 7 hari di Ciganjur, Selasa (5/1) malam. Said Aqil bercerita, Gus Dur berziarah ke makam Syekh Ali al-Uraidhi karena Syekh ini konon sempat mengalahkan seorang yang hebat bernama Surya Mesesa. Ia merasa tak terkalahkan. Bahkan untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syekh Ali al-Uraidhi. “Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujar Said Aqil. Cerita ini diperolehnya dari Gus Dur saat ia diajak berziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Said Aqil bertanya, “Makam siapa Gus?” Gus Dur menjawab, “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan.” Karena itulah Gus Dur berziarah ke makam tersebut dan kemudian ke makam Syekh Ali al-Uraidhi. Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, Gus Dur memang gemar berziarah ke makam para ulama dan sesepuh. Selain mendoakan mereka, dengan cara itu Gus Dur merangkai sejarah peristiwa yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, yang bahkan tidak tertulis dalam buku-buku sejarah. Namun ada yang yang menarik ketika Gus Dur berziarah kesuatu makam, kata Kang Said. ”Kalau ada makam yang diziarahi Gus Dur, pasti kemudian makam itu ramai diziarahi orang. Gus Dur memang tidak hanya memberkahi orang yang hidup, tapi juga orang yang sudah mati,” katanya disambut tawa hadirin. (nam) (sumber 1 , sumber 2) 2. Bertemu dan didoakan wali di madinah setelah berziarah (point 1) , beliau berdoa di raudah, malamnya gus dur ngajak kyai agil jalan2 ke masjid untuk mencari seorang wali setelah muter2 dimasjid, kyai agil ketemu sm orang pake surban tinggi, lagi ngajar santrinya banyak, bilang sm gus dur ‘apa ini wali gus ?’ gus dur bilang, ‘bukan’ akhirnya cari lagi,ketemu sm orang yg pake surban dengan jidat hitam , gus dur bilang ‘bukan ini’ kemudian gus dur menghentikan langkah di dekat orang yg pake surban kecil biasa, duduk diatas sajadah, baru gus dur bilang, ‘ini adalah wali’ kemudian kyai agil memperkenalkan pada wali tersebut, dalam bahasa arab, dan terjemahannya seperti ini ‘Syekh, ini sy perkenalkan namanya ustad Abdurrahman Wahid, ketua organisasi islam terbesar di asia’, tujuan dari mencari wali ini ialah ingin didoakan oleh seorang wali. akhirnya wali ini berdoa untuk gus dur semoga di ridloi, di ampuni , hidupnya sukses. setelah itu wali tersebut pergi sambil menyeret sajadahnya dan mengatakan ‘dosa apa saya? sampai2 maqom/kedudukan saya diketahui oleh orang’… dalam sebuah atsar (perkataan ulama2) menyatakan bahwa ‘yang mengetahui kedudukan seorang wali adalah sesama wali itu sendiri’.

GUSDURIAN

Gus Dur adalah politikus, budayawan, negarawan dan agamawan sekaligus seorang Wali. Gus Dur sering masuk pada ranah sufistik berdimensi mistik. Gus Dur pun lalu dianggap waliyulloh. Bahkan, kini mulai terhembus kiasan baru yang menyatakan sepak terjang Gus Dur seperti Nabi Kidhir.

Namun demikian, Gus Dur tetaplah Gus Dur. Tak ambil pusing dengan segala penilaian orang. Anggapan yang menyatakan dirinya adalah seorang wali tak membuatnya lalu bersikap alim dan melunak. Gus Dur tetap kontroversial. Menggebrak segala pernatan formal yang dianggap perlu dilakukan. Gus Dur tak peduli apa kata orang. Alhasil, banyak para tokoh bangsa ini kebingungan.

Gus Dur bagaikan sosok waskita yang berada jauh dari jangkauan nalar orang saat ini. Berada dalam alam kemakrifatan dan sufistik. Tetapi, ada pula yang sekedar menganggapnya sebagai biang kerusuhan. Tokoh yang banyak memiliki kasus hukum. Tokoh gendheng yang merusak tata nilai kehidupan. Anehnya, semua penilaian buruk itu tetap membuat Gus Dur disegani. Bahkan, membuat Gus Dur semakin tak tersentuh. Membawa Gus Dur pada sebuah realitas ambigu yang tak bisa dikupas hanya dengan intelektualitas.

Lantas, apa sebenarnya rahasia di balik segala sikap kontroversial Gus Dur? Benarkah, Gus Dur adalah rahasia keempat milik Tuhan seperti yang pernah dinyatakan oleh Cak Nur? Bisakah Gus Dur dipahami secara wajar dalam koridor kemanusiaan biasa dari seorang tokoh pembaharu?

Gus Dur senantiasa tampil dan beraksi berdasar apa yang diyakini benar. Tak peduli kata orang. Melawan arus dan pakem tanpa beban. Seperti Nabi Kidhir yang menyuruh Musa untuk melubangi kapal agar tenggelam. Menyuruh Musa membunuh bayi yang kelak jika dewasa justru akan durhaka kepada orangtuanya. Menyuruh memperbaiki rumah di mana seluruh penghuninya memusuhinya.

Tanpa alasan dan tak boleh bertanya, Musa menghadapi keanehan Nabi Khidir itu. Baru sesudah berakhir perjalanan menyusuri Laut Merah, Musa diberikan jawabannya. Semua itu adalah perintah Alloh. Kapal yang ditenggelamkan itu agar jangan dirompak. Bayi yang dibunuh itu kelak juga akan lahir lagi bayi dari orangtuanya yang menjadi anak soleh. Rumah musuh yang diperbaikinya itu menyimpan harta karun milik anak yatim piatu.

Kisah Nabi Kidhir itu seperti menyiratkan pesan, semua tindakan berdasar keyakinan pada Alloh tak perlu dipertanyakan. Tetapi, Nabi Kidhir melakukannya dengan kemampuan seorang Nabi, yang mengetahui benar segala maksud dan tujuannya. Dengan kata lain (sekedar memudahkan pengertian), mirip dengan kata orang Jawa, ngerti sakdurunge winarah. Bukankah seperti itu pula yang dilakukan Gus Dur? Mendobrak tata nilai tanpa memberikan verbalitas jawaban di awal perbuatan, dan selalu menemukan kebenaran atau pembenaran di akhir perkara?

GUSDURIAN

ADA APA DENGAN GUS DUR
Seperti Gus Dur, sesungguhnya kita semua ini juga tengah berjalan untuk menjemput sebuah kepastian. Yah, menjemput kepastian. Karena sesuatu yang pasti dari hidup, sesungguhnya hanyalah kematian. Yang lain? Terbulen, random, tentatif, unpredictable, ... Lihat Selengkapnya..tak pasti. Tak tentu. Bahkan sebelumnyapun kematian Mabh Surip juga telah mengajarkan, bahwa karier, kesuksesan, kekayaan, popularitas, kesenangan, keluarga, anak, istri, pacar hanyalah kesementaraan, hanyalah ketidakpastian. Yah, karena kepastian hidup adalah kematian. Dan seperti halnya dengan Gus Dur, kita tengah menuju kesana. Seperti Gus Dur, memang ada sebagian orang yang karena kasih sayang “Sang Pemilik Kepastian” tahu (atau paling tidak diberi tanda), kapan kepastian itu akan datang. Tapi sebagian besar dari kita tentu saja tidak tahu. Hidup dengan demikian sesungguhnya adalah gerak, bagi upaya kita untuk menjawab misteri dari jeda ketidaktahuan itu. Dan kadang-kadang warna dari “gerak” tadi baru kita pahami setelah kepastian itu datang. Seperti halnya ketidakpahaman kebanyakan dari kita terhadap segala “gerak” Gus Dur selama ini. Jawaban itu datang saat sang pemilik teka-teki, sang pemilik kontroversi itu dijemput oleh kepastiannya. Sinisme apa lagi yang hendak kita timpukkan? Kritik apalagi yang hendak kita lemparkan? Kecurigaan apalagi yang hendak kita sambitkan? Ketidakpercayaan apalagi yang hendak kita hantamkan? Dan lebih dari semua itu, jawaban apalagi yang kita inginkan dari seorang Gus Dur? Jutaan orang tersentak, terpana, tak percaya, haru biru, ledak tangis, cucuran air mata. Gelegar tahlil, tahmid, takbir, sholawat. Gemericik deras puja-puji, bendera setengah tiang, segala kalaidoskop kenangan dibuka lembar demi lembar. Segala gelar disematkan, Guru Bangsa, Bapak Pluralis, Bapak Kaum Minoritas, Pahlawan Nasional dan lain-lain dan lain-lain. Gumaman hingga teriakan do’a, dari seluruh lapisan. Dari wong cilik yang secilik-ciliknya hingga orang besar yang sebesar-besarnya. Semua agama, semua suku bangsa, semua negara. Dari para pemuja hingga para musuh. Dari orang yang selalu melayaninya dengan takzim hingga dari orang-orang yang selalu berusaha mencari kelemahannya dan selalu berusaha menyingkirkannya. Di hari kepastiannya, orang yang selalu mengupayakan kejatuhan Gus Dur pun coba tampil paling depan sebagai orang yang paling dekat dan paling memahami Gus Dur. Lantas jawaban apalagi yang kita inginkan dari seorang Gus Dur? Tentu saja ada. Barangkali jawaban terpenting yang harus kita dapatkan adalah kala saatnya kepastian itu kelak menjemput kita. Siapa kiranya yang akan tersentak? Adakah orang yang merasa kehilangan, menangis, mengenang pikiran dan perbuatan kita? Adakah orang yang mengirimkan doa? Jangan-jangan tak ada satu orangpun yang akan merasa kehilangan, atau bahkan merasa bersyukur dengan kematian kita. Jangan-jangan tak satupun yang mengirimkan doa, atau bahkan mengirimkan hujatan. Jangan-jangan hanya keluarga kita. Itupun setahun sekali, seperti kebanyakan dari kita. Atau bahkan tidak sama sekali, meski dari istri/suami, handai taulan, anak cucu keturunan kita. Duh, betapa sepi dan menderitanya alam kepastian kita. Kita sendiri tak punya teman untuk diajak (ilmu yang bermanfaat, amal ibadah). Sedang dari yang hiduppun tak ada yang mengirimkan seorang utusan untuk menemani derita kepastian kita (doa anak sholeh, kerabat, handai taulan, sahabat). Sesungguhnya sebagian besar dari kita, berjalan menjemput kepastian, tanpa bekal apapun (bahkan berhutang). Yah, sebagian besar dari kita menjemput kepastian dengan tanpa kepastian sama sekali. Ada apa dengan Gus Dur? Ada apa pula dengan kita sendiri? “Gerak” kita menjemput kepastian adalah Thowaf. Thowaf hati, pikiran, ucapan dan perbuatan. Thowaf orbitasi, seperti bumi yang berputar di garis porosnya. Thowaf semesta, seperti bumi yang menjelajah galaksi mengelilingi matahari. Thowaf kitalah yang akan menentukan, apakah kita akan bisa sampai padang arafah atau tidak. Menjadi ma’ruf atau tidak. Seperti kematian Gus Dur yang dengan sendirinya telah memberikan jawabnya. Seperti yang sudah banyak juga disampaikan oleh berbagai fatwa, ‘kebaikan dan kebenaran’ acapkali terjawab, saat “kepastian”datang menjemput. Bagaimana mungkin kita berharap doa orang lain, jika kita tak pernah mendoakan orang lain. Bagaimana kita berharap bisa mengetuk hati orang lain, jika kita tak pernah bisa menjaga hati kita terhadap orang lain. Dipenghujung tahun ini, rasanya tak berlebihan jika kita merenung sekejap. Merenungkan thowaf kita selama ini. Apa, bagaimana, dan untuk siapa sesungguhnya “gerak’ hati, pikiran ucapan dan perbuatan kita selama ini? Jika kita berhasil menemukan jawabnya. Maka, seperti Gus Dur, kita akan menjemput kepastian dengan “pasti”. Semoga

Sabtu, 25 Juli 2009

Suara Rindu

BAIT PENGIRING JALAN
>Ketika dia ada
Seakan dia tak perlu selalu ada
Ketika dia pergi
Seakan dia tak perlu harus pergi

Seusai mentari membenamkan diri
Dan dikala merah senja tersapa malam
Ada linangan air mata membasah pipi
Ada kepergian yang tak mungkin lekam

Ketika dia kaku
Seakan tak perlu ada rasa galau
Ketika dia membiru
Seakan mengharu biru dada bergemuru

Setangkai bunga semerbak
Mengiringi langkah pilu
Membungkus putih sebujur haru
Bagai tak percaya mata membelalak

Sejuta doa penghantar
Walau hati tak begitu rela
Hanya untuk sekedar menghibur
Dari dirimu yang selalu mengundang tawa

Selamat jalan
Sebab ada tuhan menunggumu
Menanti sedikit ceplosan lelucon
Menikmati indahnya surga tuhanmu